Travel Assistance :
Dari

Have Fun With Us!

Artikel Jurnal BRDC • Saya, Persib dan Bobotoh (Bagian Keempat)

Saya, Persib dan Bobotoh (Bagian Keempat)

Bandung,review,Bandungreview

Dari yel-yel Persib hingga nyanyian yang tidak pernah meninggalkan kata “anjing” dan makian kepada Persija di penggalan setiap liriknya, situasi di dalam stadion makin ramai, kembang api, petasan dan mercon sudah dibakar, padahal ketika itu langit masih terang, saat itu saya hanya memikirkan teman saya yang notabene pendukung Persija harus tahan mendengarkan nyanyian bernada riang tapi berlirik menghina tersebut, he-he. Tapi dari situ juga saya makin paham mengapa bobotoh Persib sangat antusias menanti tim kesayangannya bermain. Ya, saya merasakan euforia tersebut, euforia yang tidak mungkin bisa saya rasakan ketika menonton Persib lewat layar televisi manapun.

Hingga pertandingan dimulai, situasi di dalam Stadion Si Jalak Harupat yang berdaya tampung sekitar 40.000 penonton makin penuh saja. Imbasnya adalah ketika babak pertama dimulai, pasca gol pinalti Radovic, entah kenapa para bobotoh yang baru datang memaksakan diri untuk berdiri di sepanjang tribun dan menghalangi kita para penonton yang sudah duduk di dalam sebelum mereka datang.

Semua penonton ribut, mengamuk kepada para penonton yang tidak mau duduk karena sudah tidak ada tempat lagi memangnya. Belum lagi ditambah dengan insiden dorong-dorongan yang dipicu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, alhasil saya melewatkan 15 menit pertandingan babak pertama karena ulah bobotoh yang masih belum bisa diatur hingga detik ini!

Saya sampai harus menahan buang air kecil selama dua jam lebih karena situasi tidak memungkinkan untuk meninggalkan tempat duduk. Bobotoh yang baru datang langsung menghalangi para penonton yang sudah duduk nyaman sebelumnya. Maka setelah nasehat dan teriakan (plus makian) yang berulang-ulang selama turun minum, mereka harus rela untuk jongkok menonton Persib bertanding.

Lucunya, banyak diantara bobotoh yang baru datang adalah bobotoh yang tidak membeli tiket sama sekali untuk menonton pertandingan saat itu, dengan santainya mereka ngobrol di depan saya, bercerita tentang serunya nonton Persib tanpa membeli tiket. Entah dapat dikatakan kemunduran moral entah memang sudah waktunya 2012 kiamat, melihat perilaku bobotoh yang katanya cinta mati Persib, tapi ingin menonton saja, mereka tidak membeli tiket malah merugikan yang sudah susah payah mendapatkan tiket entah dari calo keberapa.

Apa karena ini faktor lawan Persib adalah Persija? Saya pikir hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan, jika kamu memang suka dan cinta mati Persib, cara paling sederhana untuk menghargai mereka adalah dengan membeli tiket masuk untuk menonton langsung di stadion, itu belum bicara soal perilaku anarkis diluarnya.

Makin miris setelah hari-hari sesudah big match tersebut saya membaca komentar-komentar para bobotoh di dunia maya yang diantaranya mempunyai perasaan sama seperti saya ketika dirinya diajak menonton Persib oleh salah satu temannya, orang tersebut tidak punya tiket, tapi temannya dengan santai bicara “gampang soal tiket mah, nanti kalau gak bisa masuk tinggal paksa dobrak aja”.

Tidak aneh jika teman saya di stadion saat itu berkomentar soal perihal kejadian rusuh, kisruh, ricuh di stadion, jalanan hingga tribun tempat kita duduk sama dengan kejadian sepak bola di Inggris tahun 60-an. Ironis sekaligus miris, tapi memang itu nyatanya, dimana perilaku bobotoh masih belum bisa mencerminkan “bobotoh baik” yang selalu digembar-gemborkan warga Bandung. Maka tidak aneh jika teman saya dengan gamblangnya membandingkan penonton sepak bola Indonesia khususnya Persib di tahun 2012 ini dengan penonton sepak bola di Inggris tahun 60-an, nyatanya memang bobotoh sulit diatur, walau saya yakin tidak semua, tapi dari pengalaman saya langsung, masih banyak bobotoh yang sulit (entah memang tidak mau) diatur.

Saya tidak bisa mengerti, mengapa mereka (bobotoh) tidak bisa menikmati pertandingan sepak bola layaknya orang normal lainnya, tidak harus selalu memaki wasit dengan sebutan “anjing” dan “goblok” padahal kenyataanya yang dilakukan wasit adalah benar, padahal ketika wasit mengambil keputusan yang menguntungkan bagi Persib, saya tidak mendengar sama sekali pujian para bobotoh kepada wasit, yang ada kata “anjing” dan “goblok” yang disematkan ke depan kata wasit kembali terulang beberapa menit kemudian ketika (lagi-lagi) ada keputusan yang sedikit merugikan tim tuan rumah.

Tidak harus selalu ada perkelahian antar para bobotoh hanya karena tidak mendapat tempat duduk. Apa mereka tidak mengerti idiom “first come first serve”? padahal mereka tidak membeli tiket, tapi kenapa mereka tetap ngotot masuk kedalam stadion yang sudah kelebihan kapasitas? Tanya kenapa! Tidak harus selalu menjadi seorang provokator. Hal tersebut saya lihat dengan mata kepala saya sendiri ketika ada seorang bobotoh disamping saya (yang entah beli tiket atau tidak) dengan sengaja melempar es batu berkali-kali ke polisi yang berjaga dipinggir lapangan.

Okelah kalau mereka melempar barang-barang tidak jelas kepada pemain lawan yang kebetulan sedang berada di pinggir lapangan untuk mengambil tendangan pojok, saya mengerti kekesalan mereka, tapi kepada polisi? Apa tujuannya? Mereka hanya bertugas untuk mengamankan pertandingan akbar ini dengan bayaran yang tidak seberapa, tapi keberadaan para polisi sudah tidak dihargai dari awal. Tidak aneh jika ada petugas kemanan yang mengamuk secara brutal di pintu masuk sebelumnya, saya mengerti perasaannya jika saya berada di posisinya. (AG)

To Be Continued

Baca bagian ketiga DISINI

All photos are courtesy of @myrdalism

Tags : @myrdalism, Anjing, Bandung, Bandungreview, BRDC, Big Match, Bobotoh, Brutal, Cacian, Diatur, Goblok, Inggris, Miljan Radovic, Makian, Olahraga, Persib, Persija, Pinalti, Provokator, Polisi, Rusuh, Saya, Persib dan Bobotoh (Bagian Keempat), Stadion Si Jalak Harupat, Sepak Bola, Tiket

26 Februari, 2012 10:42:35
List Komentar
 
Tulis Komentar
Artikel Terkait
Yang Termacet di Bandung (Bagian Kesatu) »
Jelajahi Kondisi Pemuda Indonesia Bersama YOURS! »
Symphonesia: Musik dan Budaya Menjadi Satu »
Lawan Degradasi Moral Melalui Five Live Battlefield »
Seminar Symphonesia: Tourism as Soft Power of Indonesia »

Copyright © bandungreview and in association with idwebhost