Travel Assistance :
Dari

Have Fun With Us!

Artikel Jurnal BRDC • Sedikit Cerita tentang Pikiran Rakyat

Sedikit Cerita tentang Pikiran Rakyat

Bandung,review,Bandungreview

Membaca sama dengan membuka jendela dunia, setidaknya itulah kalimat yang sering diucapkan seorang ibu agar anaknya rajin membaca. Kalau bicara soal membaca, mungkin koran adalah bahan bacaan yang paling informatif dan paling mudah didapat setiap harinya. Kalau bicara koran, sebagai warga Bandung, siapa sih yang tidak kenal dengan koran Pikiran Rakyat yang biasa disingkat koran PR.

Secara tidak langsung, koran PR dan kota Bandung merupakan bagian dari sejarah perkembangan pers di Indonesia. Perlu diketahui bahwa ketika jaman penjajahan Belanda, saat itu surat kabar lokal susah sekali untuk berkembang karena pergerakannya dibatasi oleh pemerintah kolonial. Maka pada tahun 1907 terbit surat kabar nasional pertama yang bernama “Medan Prijaji” asuhan Raden Mas Tirtohadisoerjo yang mempunyai nama kecil Djokomono.

Medan Prijaji beralamat di Jalan Naripan yaitu di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK). Saat itu Djokomono disebut sebagai perintis surat kabar dan kewartawanan nasional, oleh karena itu Medan Prijaji disebut sebagai koran Indonesia asli yang pertama karena mulai dari pengasuh, penerbit, percetakan hingga wartawannya adalah orang pribumi asli.

Terbitnya Medan Prijaji menjadi inspirasi bagi kalangan penerbit di Bandung dan Jawa Barat pada umumnya. Terbukti dari makin banyaknya surat kabar yang berkembang dari mulai surat kabar berbahasa Indonesia hingga bahasa sunda yang dicetak. Hal tersebut tidak lepas dari pergerakan nasional rakyat Indonesia terhadap penjajahan Belanda, karena saat itu surat kabar merupakan media paling ampuh untuk menyambung lidah rakyat. Maka tidak aneh jika saat itu jarang sekali surat kabar yang berumur panjang, karena pergerakannya selalu diawasi oleh polisi rahasia Belanda, bahkan ditutup langsung.

Medan Prijaji adalah bagian penting dari sejarah perkembangan pers di Indonesia. Jauh setelahnya, pada tahun 1950-an terbit “Harian Pikiran Rakjat” yang dirintis oleh Djamal Ali bersama AZ.Sutan Palindih dkk. Tapi harian PR harus berhenti pada tanggal 25 Maret 1965 karena saat itu pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa semua media cetak harus berafiliasi dengan partai politik, maka atas dorongan Pangdam Siliwangi Ibrahim Adjie, wartawan-wartawan harian PR yang diwakili Sakti Alamsyah dan Atang Ruswita menerbitkan koran angkatan bersenjata edisi Jawa Barat yang terus bertransformasi menjadi Harian Umum Pikiran Rakyat pada tahun 1967 yang kita kenal hingga sekarang.

Karena koran PR selalu mendapat hati di para pembaca setianya, pada tahun 1973 koran PR merubah badan hukumnya yang semula yayasan menjadi perseroan terbatas dengan nama PT Pikiran Rakyat Bandung. Puncaknya adalah tahun 1974 ketika koran PR mendapat “durian runtuh”, yaitu mempunyai mesin cetak yang mampu mencetak koran sebanyak 25.000 eksemplar perjam, setelah itu, oplah koran PR terus meningkat, merambah ke seluruh pelosok Jawa Barat dan menjadi koran wajib warga Jawa Barat. Bahkan saat itu koran PR sampai beredar di Kuala Lumpur, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Ya, motto tersebut bagaikan sebuah refleksi kesetiaan koran PR yang selalu memberi kabar hangat untuk para pembaca setianya dari waktu ke waktu. Maka tidak aneh, walaupun banyak yang membaca koran lain selain koran PR, warga Jawa Barat pasti tetap membaca koran PR hingga detik ini. Hingga saat ini, rubrik di koran PR terus berkembang dan bervariasi menyesuaikan dengan perkembangan jaman, tidak lupa versi online dan e-paper juga bisa kamu baca langsung di website-nya atau follow Twitter-nya di @pikiran_rakyat. Akhir kata, sudahkah kamu membaca koran hari ini? Have a great day guys! (AG)

Photo Source: http://ahmedfikreatif.wordpress.com

Tags : AZ.Sutan Palindih, Atang Ruswita , Bandung, Bandungreview, BRDC, Belanda, Brunei Darussalam, Djokomono, Djamal Ali, Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Harian Pikiran Rakjat, Indonesia, Ibrahim Adjie, Jawa Barat, Koran, Kolonial, Kuala Lumpur, Medan Prijaji, Malaysia, Penjajahan, Pangdam Siliwangi, Pikiran Rakyat, Pers, Raden Mas Tirtohadisoerjo, Sunda, Sakti Alamsyah, Surat Kabar, Sejarah, Sedikit Cerita tentang Pikiran Rakyat, Wartawan

21 Februari, 2012 14:20:15
List Komentar
 
Tulis Komentar
Artikel Terkait
Yang Termacet di Bandung (Bagian Kesatu) »
Jelajahi Kondisi Pemuda Indonesia Bersama YOURS! »
Symphonesia: Musik dan Budaya Menjadi Satu »
Lawan Degradasi Moral Melalui Five Live Battlefield »
Seminar Symphonesia: Tourism as Soft Power of Indonesia »

Copyright © bandungreview and in association with idwebhost